Sunday, 23 June 2013

Mengomentari Film The Help dengan Teori Feminisme dan Aplikasinya di Abad Ini

Sekilas The Help
Terletak di Mississippi selama tahun 1960, Skeeter adalah seorang gadis masyarakat selatan yang kembali dari perguruan tinggi bertekad untuk menjadi seorang penulis, tapi ternyata kehidupan teman-temannya '- dan sebuah kota Mississippi - terbalik ketika dia memutuskan untuk mewawancarai perempuan kulit hitam yang telah menghabiskan hidup mereka mengurus keluarga selatan yang menonjol. Aibileen pengurus rumah sahabat Skeeter ini, adalah yang pertama untuk membuka - dengan cemas teman-temannya di komunitas kulit hitam yang erat. Meskipun persahabatan seumur hidup Skeeter tergantung pada keseimbangan, ia dan Aibileen melanjutkan kolaborasi mereka dan segera lebih banyak para perempuan kulit hitam datang  untuk menceritakan kisah mereka - dan ternyata, mereka memiliki banyak untuk dikatakan. Sepanjang jalan, mungkin persahabatan yang palsu dan persaudaraan baru muncul, tetapi tidak sebelum semua orang di kota memiliki satu atau dua hal untuk mengatakan diri mereka sendiri ketika mereka menjadi sadar - dan terpaksa - terjebak dalam perubahan zaman.

Pembahasan teoritikal
Di film ini secara tersirat mengisahkan perjalanan para perempuan di tahun 1960an khususnya di daerah Mississipi.  Namun pemikiran feminis liberal Mary Wollstonecraft dapat cukup menjelaskan fenomena dalam film ini. Dalam film the help, para wanita kulit putih yang mempekerjakan para kulit hitam, kebanyakan dari mereka adalah orang yang telah menikah dengan pasangan yang cukup mapan.

Menurut Wollstonecraft, perempuan kulit putih tersebut bisa dibilang termasuk perempuan borjuis. Perempuan dalam kelompok ini adalah yang pertama-tama merasakan tinggal di rumah, dan tidak mempunyai pekerjaan produktif yang harus dilakukan. Karena mereka menikahi para professional dan pengusaha yang relative kaya, perempuan ini tidak mempunyai inisiatif untuk bekerja secara produktif di luar rumah, atau bahkan untuk melakukan pekerjaan tidak produktif di rumah, jika mereka mempunyai beberapa pelayan.

Perempuan kelas menengah, menurut Wollstonecraft, adalah perempuan ‘peliharaan’ yang telah mengorbankan kesehatan, kebebasan, dan moralitasnya untuk prestise, kenikmatan dan kekuasaan yang disediakan suaminya. Karena khawatir perempuan kelas menengah ini tidak diizinkan untuk berolahraga di luar rumah, karena khawatir hal itu akan menggelapkan kulitnya yang putih, menjadikan tubuh mereka tidak sehat. Karena mereka tidak dibiarkan untuk mengambil keputusan sendiri, mereka tidak punya kebebasan.

Kemudian muncul gerakan feminis liberal pada tahun 1960an. Mereka bertujuan meningkatkan status perempuan dengan menerapkan tekanan legal, sosial, dll terhadap jaringan televise dan partai-partai politik utama. Berlawanan dengan gerakan feminis liberal tahun 1960an, feminis radikal tahun 1960an berkumpul dalam salah satu dari kelompok yang disebut kelompok pembebasan perempuan. Lebih kecil dan focus daripada kelompok-kelompok hak perempuan, kelompok ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran perempuan mengenai opresi terhadap perempuan.

Aplikasinya saat ini
Film The Help memang bukan film beradasarkan kisah asli seseorang, tetapi memang benar adanya pada abad saat itu sedang marak-maraknya ‘perbudakan’. Baik perbudakan kulit putih terhadap kulit hitam, maupun juga kebebasan para wanita kulit putih.

Baik dulu maupun sekarang, telah banyak organisasi aktivis pembela hak-hak perempuan. Namun hal tersebut justru menambah kepastian pada laki-laki, bahwa hingga kini perempuan masih hilang haknya. Jika memang mengaku perempuan telah setara haknya dengan laki-laki. Lalu kenapa saat ini masih ditemukan badan yang melindunginya. KOMNAS PEREMPUAN? Tentu saja tidak ada komite untuk melindungi pria. Apa cuma pria yang dapat melakukan kekerasan pada lawan jenisnya?

Komnas seharusnya melindungi hal paling intim dari wanita. Bukan di badannya, dengan sangat yakin, wanita juga bisa kuat menahan apapun sama seperti pria. Tetapi pada hak-haknya yang dirampas secara tertanam pada mitos yang sudah mengakar di negeri ini. Semacam aturan-aturan tidak tertulis pada wanita.

Tak sedikit pula tapi wanita yang lebih suka menjadi tawanan lawan jenisnya. Menjadi istri simpanan misalnya, kekasih gelap, dll yang bertujuan meraup kekayaan pria yang dianggap mampu memenuhi segala keinginannya. Sebagian mereka mempertaruhkan nama baik demi mendapatkan kemewahan.

Contohnya saja yang sedang marak saat ini, perempuan-perempuan yang ‘disenangkan’ para pemegang jabatan Negara. Vitalia Sesha sebagai wanita yang menerima hasil suap Ahmad Fathanah. Atau kasus yang agak lama, yaitu Manohara yang meikah dengan Pangeran Kerajaan Negara tetangga. Mereka sangat terlihat sebagi perempuan yang matrealitstis dan borjuis.

Kesimpulan
Mungkin entah sampai kapan wanita akan sejajar haknya dengan laki-laki. Jika tidak dimulai dari hari ini, mulailah menolak tawaran-tawaran yang mengistimewakan perempuan, seperti ‘sesuatu’ yang khusus wanita (alat transportasi misalnya).

Referensi


Tong, Rosemarie Putnam. 2010. Feminis Thought: Pengantar Paling Komprehensif kepada Arus Utama Pemikiran Feminis. Yogyakarta: Jalasutra


Saya sarankan untuk menonton film The Help, karena ini film yang sangat bagus dan inspiratif.

No comments:

Post a Comment